Mau Investasi Properti di Bali? Simak Tiga Aspeknya!

Bali merupakan destinasi wisata impian bagi setiap orang. Tidak hanya di mata turis mancanegara saja, melainkan masyarakat Indonesia sendiri. Dari sektor bisnis properti, Pulau Dewata juga selalu menjanjikan.

Bila selama ini banyak yang berpendapat bahwa sumber investasi properti terbaik di Bali masih berpusat di kawasan Kuta, perlu diketahui bahwa area di Bali Barat dan Bali Utara saat ini dinilai lebih prospektif.

properti bali utara

Bila selama ini banyak yang berpendapat bahwa sumber investasi properti terbaik di Bali masih berpusat di kawasan Kuta, perlu diketahui bahwa area di Bali Barat dan Bali Utara saat ini dinilai lebih prospektif.

Ada dua hal yang menjadi dasar kenapa kedua lokasi tersebut perlu menjadi perhatian investor. Pertama, kedua lokasi tersebut adalah lokasi yang dibuka seluas-luasnya oleh Pemerintah bagi pengembangan bisnis pariwisata di Bali.

Kedua, sejak Pemerintah Daerah membuat kebijakan membuka luas ijin pembangunan hotel dan kondotel, maka wilayah seperti Jembrana dan Singaraja menjadi pilihan tepat bagi investor yang tertarik untuk mengembangkan bisnis pariwisata dan perhotelan di kedua wilayah tersebut. Terlebih dengan kondisi Bali barat yang secara geografis cukup menarik, serta Bali Utara yang menjadi salah satu lokasi di Bali untuk pengembangan wisata pantai, laut dan wisata air lainnya.

Lantas, apa saja aspek yang perlu diperhatikan ketika berencana membeli properti sebagai ladang investasi di Bali?

Tiga Aspek Utama

  1. Pertama, beli saat harga stabil

Harga properti di kawasan liburan cenderung lebih stabil dibanding daerah lain. Dengan kata lain, pada momen tertentu harga cenderung booming dan saat lesu sekalipun, harga tak pernah jatuh drastis. Kesimpulannya, belilah properti saat kondisi pasar tengah datar.

Informasi tentang kondisi pasar terkini di Bali, bisa Anda tanyakan kepada pihak yang jauh lebih piawai seperti agen properti.

  1. Kedua, beli diluar musim liburan

Pasar perumahan di daerah liburan tidak hanya siklus, melainkan juga musiman, yang artinya harga relatif naik selama musim liburan dan kembali datar ketika para wisatawan tidak berlibur.

Ketika Anda membeli properti di luar musim liburan, Anda akan bersaing dengan sedikit konsumen lain dan mempunyai lebih banyak waktu untuk memastikan keputusan serta merancang strategi tawar-menawar.

Akan tetapi harga bisa naik dan turun seketika meski di luar musim, jika pemicunya adalah faktor hukum penawaran dan permintaan.Ketika semakin banyak investor yang datang untuk mencari properti berupa rumah tapak yang akan disulap menjadi vila atau guest house, inilah waktu di mana kompetisi penjualan akan memanas dan harga berangsur naik.

  1. Ketiga, beli ketika ada permintaan

Kenyataannya, harga properti yang terlampau tinggi, memaksa investor untuk mempertimbangkan rumah seken sebagai satu-satunya ruang investasi kedua.

Asalkan, keputusan ini diambil karena permintaan sewa akan rumah penginapan di satu lokasi wisata begitu besar. Pastikan sebelum membeli, Anda telah melakukan riset pasar yang menunjukkan betapa banyaknya permintaan namun tidak diiringi ketersediaan. Dengan begitu, investasi properti Anda akan meraup keuntungan sewa yang menggiurkan.

Jadi tidak ada alasan lagi ya tidak dapat berinvestasi tanah murah di Bali. Kalau anda ingin mendapatkan informasi lebih lanjut tentang tanah murah di Bali, silakan hubungi kami di nomor WA 081315476062 (Benny). 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *